959 words
Kirana tersenyum tipis begitu melihat pantulan wajahnya di cermin. Gadis itu merapihkan poni nya serta meraih lipstick untuk memberikan sentuhan akhir pada wajahnya, “Oke, bagus”
Untuk terakhir kalinya ia kembali tersenyum sebelum detik selanjutnya senyum itu hilang. Ia melirik makeup nya yang berantakan di atas meja rias serta botol parfum yang kini tutupnya terbuka. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas panjang hari ini,
“Buat apa juga dandan cakep-cakep kalo dilirik juga nggak” keluh nya.
Selalu begini setiap dia berniat mau pergi dengan Hanan, kekasihnya sejak dua tahun yang lalu. Iya sih, kata orang-orang kalau mau dandan itu untuk diri sendiri bukan untuk orang lain, tapi kan kadang kala kita kepengen dipuji apalagi sama pacar sendiri.
Tapi kayaknya Kirana memang cuman bisa bermimpi.
Gadis itu berdiri dari duduknya sambil merapihkan makeup nya yang berantakan. Sebentar lagi Hanan pasti datang, dan dia nggak mau membuat kekasihnya itu menunggu lama walaupun Hanan sendiri nggak pernah protes.
Dua tahun menjalani hubungan bersama, segala jenis adegan romansa udah pernah Kirana alami. Tiga bulan pertama yang penuh dengan nuansa romantis, enam bulan selanjutnya mulai diisi pertengkaran, hingga di umur satu tahun kata putus menjadi kata yang sering diucapkan.
Kalau kata Cece, kalau setiap lo putus dapet duit mungkin sekarang lo udah bisa bayar utang negara Kir!, ketika Kirana kembali mengadu untuk kesekian kalinya soal hubungannya dengan Hanan yang putus nyambung.
Padahal ya, Kirana ini selebgram ibu kota. Temannya banyak. Yang naksir juga banyak. Mulai dari orang biasa sampai artis atau pemain film pun rasanya mau mengantri demi menjadi kekasih gadis itu. Tapi namanya juga cinta, kadang bisa bikin kita buta sama keadaan sekitar dan menjadikan pasangan kita porosnya dunia.