1373 words cw // mentioning of family problems


Adrian nggak punya makanan favorit.

Baginya, semua rasa makanan itu sama aja. Walaupun kadang, ada makanan yang rasanya enaaaak banget, dan ada juga yang rasanya biasa aja. Sebagai contoh, Indomie yang di pesan di warpat puncak atau rendang yang suka dia beli di restoran Indonesia waktu masih kuliah di Belanda.

Dari kecil, Adrian nggak pernah akrab sama yang namanya masakan rumahan. Hidupnya cuman dipenuhi sama fast food, instant food, atau kadang Mbak alias ART di rumah masak tapi Adrian tetap merasa biasa aja.

“Makan, Nak!” itu suara Tante Tina, Bunda nya Kirana.

“Ini ada ayam goreng, sayur, tempe, tahu, banyak nih kamu tinggal pilih mau makan apa” ujar wanita itu sambil duduk di hadapan Adrian, sementara Kirana duduk di sampingnya. Di atas meja, tersaji beberapa lauk yang cukup banyak, hasil dari masakan Tante Tina.

“Terima kasih Tante” Adrian tersenyum tipis, “Maaf saya ngerepotin”

Kalau diperhatikan dengan seksama, Bunda nya Kirana ini memang kelihatan mirip banget sama Kirana. Mukanya mirip, tingkah lakunya mirip, bahkan sama-sama heboh. Om Bima alias Ayah nya Kirana juga nggak jauh beda. Mirip kayak Haga cuman udah umur 40-an aja.

Malam itu, Adrian beneran berakhir makan malam bareng di rumah Kirana. Sejak dia datang dua puluh menit yang lalu, dia disambut hangat sama kedua orang tua Kirana. Dikasih kue, ditawarin permen, sampai akhirnya mereka duduk bareng di meja makan kayak sekarang.

Adrian nggak terbiasa sama hal yang kayak gini.